|
Bung Karno bertafakur memandang alam bebas, mengagumi kebesaran Allah SWT untuk mendapatkan inspirasi. Salah satu hasilnya Bung Karno menuangkannya ke dalam bentuk puisi yang diberi judul Aku Melihat Indonesia. Puisi ini kemudian dipopulerkan Sitor Situmorang, Satrawan dan sekaligus sahabat Bung Karno, yang juga banyak menciptakan karya puisi. Puisi-puisi Sitor sendiri telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Di antaranya bahasa Inggris, Perancis, Belanda, China, Jepang, Italia, Rusia, dan Jerman.
Aku Melihat Indonesia Jika aku berdiri di pantai Ngliyep Aku mendengar lautan Indonesia bergelora Membanting di pantai Ngeliyep itu Aku mendengar lagu – sajak Indonesia Jikalau aku melihat Sawah menguning menghijau Aku tidak melihat lagi Batang padi menguning – menghijau Aku melihat Indonesia Jika aku melihat gunung-gungung Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet Dan gunung-gunung yang lain Aku melihat Indonesia Jikalau aku mendengar pangkur palaran Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan Aku mendengar Indonesia Jika aku menghirup udara ini Aku tidak lagi menghirup udara Aku menghirup Indonesia Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa Dengan mata yang bersinar-sinar (berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka! Aku bukan lagi melihat mata manusia Aku melihat Indonesia!
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 21 April 2010 19:57 |
Komentar
RSS feed untuk komentar di atas